Tips Bisa Cepat Hamil

Wednesday, August 16, 2017

Tips Cepat Hafal Rumus Matematika



Cara Mudah Hafal Rumus Matematika 

Pelajaran matematika sering menjadi momok bagi anak. Hal ini terjadi karena mereka merasa kesulitan memecahkan soal-soal matematika yang mereka hadapi di sekolah. Padahal, jika rumusnya diterapkan dengan baik, soal matematika sesulit apa pun pasti bisa diselesaikan. Supaya anak tidak terus-menerus mengeluh karena harus menghadapi hari yang berat akibat pelajaran matematika, orang tua perlu menolong anak dengan bagaimana cara menghafal rumus matematika. Berikut beberapa strategi sederhana yang bisa diterapkan.
1.      Pahami Dasarnya
Sesungguhnya, matematika adalah pelajaran yang berhubungan dengan logika. Artinya, dengan memahami setiap soal dengan teliti, kita bisa memecahkannya dengan mudah. Jawaban atas setiap pertanyaan pun bersifat pasti. Itulah sebabnya matematika disebut sebagai ilmu pasti. Nah, untuk memecahkan soal-soal matematika tersebut, biasanya ada rumus yang telah ditetapkan. Dengan bantuan rumus, soal matematika serumit apa pun pasti bisa diselesaikan. Menghafal rumus matematika adalah salah satu strategi yang tepat supaya anak bisa menyelesaikan soal-soal tersebut dengan baik. Namun, supaya lebih maksimal menghafal rumus, sebaiknya anak memahami terlebih dahulu dasar logika yang digunakan. Misalnya, jika a ditambah b adalah c, maka jika c dikurangi a adalah b, demikian pula jika c dikurangi b adalah a. Jika a + b = c , c - a = b , c - b =a. Dengan memahami rumus matematika yang bersifat logis ini, anak diharapkan akan lebih mudah menghafalnya. Meskipun soal-soal tersebut dijabarkan dengan kalimat yang rumit, asal anak telah memahami rumusnya, tentu akan sangat mudah menyelesaikannya.
2.      Strategi Menempel Rumus Matematika
Anak-anak identik dengan aktivitas yang bersifat menyenangkan. Supaya bisa menghafal rumus matematika dengan baik, terapkan strategi menempel. Belilah kertas berwarna-warni yang menarik dan indah dipandang. Lalu, ajaklah anak menulis rumus-rumus matematika di kertas-kertas tersebut. Setelah itu, tempelkan kertas-kertas berisi rumus itu di tempat-tempat yang mudah terlihat, misalnya di pintu kamar, di cermin, di pintu kulkas, dan sebagainya. Tempelkan juga kertas berisi rumus tersebut di meja belajar, di dekat tempat tidur, atau di mana saja anak menginginkannya. Tujuannya supaya anak semakin sering melihat dan membaca sehingga rumus tersebut terpatri dengan mudah di benaknya. Jika setiap hari anak dihadapkan pada kertas-kertas berisi rumus tersebut, niscaya ia akan segera mengingatnya tanpa disadari dan belajar matematika pun menjadi menyenangkan.
 3.      Jadikan Lagu
Salah satu cara untuk mengingat sesuatu adalah menjadikannya sebagai lagu atau menyanyikannya. Alunan nada pada sebuah lagu cenderung membantu seseorang mengingat sesuatu. Misalnya nyanyian, “Satu ditambah satu sama dengan dua….” Nah, tugas orang tua adalah menolong anak melagukan rumus tersebut dengan nada yang menarik dan enak didengar. Jika lagu berisi rumus tersebut terus diulang, anak pun akan semakin mudah menghafal rumus matematika. Hasilnya? Anak bisa menerapkan rumus tersebut untuk menyelesaikan soal-soal matematika di sekolah.
4.      Terus Berlatih
Menghafal rumus tanpa rajin melatihnya adalah hal yang sia-sia. Seperti kita ketahui, pertanyaan matematika muncul dalam berbagai variasi. Kadang-kadang, pertanyaan bersifat menjebak sehingga kita harus mencernanya dengan teliti. Karena itu, menghafal rumus saja belum cukup. Namun, dengan rajin berlatih, kita pasti bisa memahami pertanyaan serumit apa pun.
Melatih diri untuk menyelesaikan soal-soal menggunakan rumus matematika tentu akan membuat kita lebih mudah menghafal rumus tersebut. Mengapa demikian? Tidak lain adalah karena kita langsung mengaplikasikannya untuk menyelesaikan sebuah pertanyaan. Sebaliknya, jika tidak pernah atau jarang berlatih, kita pun semakin sulit menghafal rumus matematika tersebut. Jadi bagaimana, sudah siap menghafal rumus matematika?

Referensi Artikel : http://www.educenter.id



Tuesday, August 8, 2017

Bimbel Matematika ASM (Privat & Course)

Belajar Matematika Secara Tepat di ASM Course
Selama ini mitos yang berkembang dikalangan siswa, menganggap bahwa belajar matematika adalah hal mengerikan yang selalu ditakuti ketika sekolah. Mata pelajaran yang selalu identik dengan perhitungan ini sukses membuat kepala siswa jadi pusing. Akibatnya banyak siswa merasa jenuh dan enggan mengikuti kegiatan belajar matematika di sekolah, dan selalu berharap jam pelajaran tersebut segera cepat berakhir. Mirisnya lagi, untuk mendapatkan nilai maksimal pada mata pelajaran ini susahnya minta ampun. Tugas / PR yang  sulit menjadi beban rutinitas, ulangan harian dan ulangan semesterpun seakan menyeramkan,  sampai-sampai siswa berucar asal tidak ada PR dan remidial adalah hal yang wajib disyukuri

Namun, apakah matematika sesulit itu? 
Jawabannya bisa YA bisa Tidak, itu tergantung dari cara kita mempelajarinya.
Nyatanya, belajar matematika tidak sesulit yang dibayangkan oleh semua orang, ini tergantung midset kita. Sebagi contoh, jika diawal pelajaran kita sudah merasa bosan maka hasil yang akan kita raih selama beajar-pun tidak maksimal. Namun sebaliknya, bila kita have fun saat mengikuti pelajaran maka semua materi yang disampaikan terasa mudah dipahami. Betul . . . ? 
Siapa saja bisa mempelajari materi ini, tidak peduli apakah seorang pelajar sekolah atau siapa saja yang ingin mendapatkan dasar Matematika untuk kehidupannya. Kalau Anda ingin belajar matematika dengan lebih terstruktur, perhatikan langkah-langkahnya di bawah ini.
1.    Komitmen yang Tinggi
Tanpa adanya komitmen yang tinggi, mempelajari Matematika hanya akan membuat Anda merasa tersiksa. Pasalnya, banyak hal dari Matematika yang menuntut konsentrasi tinggi hingga pengulangan berkali-kali sampai pemahaman materi didapatkan. Kalau Anda sudah merasa bosan dan malas sejak pertama belajar, kemampuan Matematika tidak akan bisa berkembang dengan baik. Sebelum mempelajari Matematika, apa pun tingkatannya, buatlah komitmen yang tinggi. Usahakan untuk terus belajar apa pun kondisinya, bila perlu mengambil les matematika. Kalau hal ini sudah bisa dilakukan, niscaya Matematika berubah dari awalnya mengerikan menjadi sesuatu yang menyenangkan sehingga belajar setiap hari pun bisa Anda lakukan.
2.     Membuang Mindset Yang Sudah Lapuk
Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika Matematika adalah pelajaran yang mendapatkan peringkat tertinggi dalam hal kesulitan. Akibatnya, sebelum mempelajari materinya pun banyak orang sudah pasrah dan menyerah. Mereka beranggapan kalau Matematika hanya bisa dipelajari oleh mereka yang memiliki otak encer dan langganan juara kelas. Cara pandang atau mindset tentang Matematika yang salah membuat banyak orang susah memahaminya. Jika sejak awal sudah tidak ada minat, maka belajar sampai bertahun-tahun pun tidak akan ada gunanya. Sebelum mempelajari Matematika, buang jauh-jauh anggapan bahwa materi ini sangat sulit. Anggap Matematika sama seperti pelajaran lain yang bisa dipelajari dan dikuasai dengan mudah.
3.    Memahami Pentingnya Manfaat Matematika Untuk Kehidupan Sehari-hari

Sebagian orang pasti pernah berujar: "Buat apa belajar Matematika dengan rumus sulit kalau ujung-ujungnya tidak dipakai di kehidupan nyata". Saat belajar Matematika, sebaiknya buang pemikiran yang tidak benar itu. Memang tidak semua hal dalam Matematika bisa digunakan di dunia nyata, namun dengan mempelajari Matematika akan membuat Anda semakin mudah dalam menyelesaikan banyak permasalahan. Misalnya dalam menghitung uang, mempelajari logika, hingga penerapan dalam pekerjaan. Intinya, apa yang Anda pelajari tidak akan terbuang percuma.
So. . . , Guys Remember !
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang tidak bisa dipelajari dalam sekali waktu. Perlu keseriusan dan banyak latihan memecahkan / mengerjakan berbagai soal, karena dengan metode pengulangan belajar ini sangat efektif melatih pola pikir kamu. 

Apa Sih Arti & Hakikat dari Matematika itu?

Definisi Matematika :

Ada banyak macam versi arti Matematika jika dilihat dari asal bahasanya, pertama makna Matematika yang berasal dari bahasa latin, dari kata “manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari”. Sedangkan yang kedua menurut bahasa Belanda matematika disebut  “wiskunde atau  ilmu  pasti”. Jadi dapat disimpulkan matematika adalah ilmu pasti yang harus dipelajari, SETUJU ?

Lebih lanjut, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Matematika memiliki arti ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Dari Wikipedia, Matematika berasal dari bahasa Yunani ‘mathematika’ yang berarti studi tentang besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Kebenaran hubungan konjektur – konjektur baru dari berbagai pola yang ada dalam matematika dibuktikan atau dibangun dengan pembuktian – pembuktian matematis melalu aksioma – aksioma dan definisi – definisi matematika yang bersesuaian. Menurut Roy Hollands ”matematika adalah suatu sistem yang rumit tetapi tersusun sangat baik yang mempunyai banyak cabang (Roy Hollands. Kamus Matematika, Erlangga : Jakarta, 1995). Oleh karena itu, mempelajari matematika berbeda dengan mempelajari ilmu - ilmu lainnya, seperti bahasa, ekonomi, bahkan berbeda dengan ilmu – ilmu pengetahuan alam.
Kemudian menurut istilah, para ahli seperti Somardyono mengemukakan bahwa “Matematika adalah produk dari pemikiran intelektual manusia”. Russel (dalam Uno dan Kuadrat (2010:108)) mendefinisikan matematika sebagai suatu studi yang dimulai dari pengkajian bagian-bagian yang sangat dikenal menuju arah yang tidak dikenal. Arah yang dikenal itu tersusun baik (konstruktif) , secara bertahap menuju arah yang rumit (kompleks). Sedangkan menurut Soedjadi (dalam Uno dan Kuadrat (2010:108)) “matematika merupakan ilmu yang bersifat abstark, aksiomatik dan deduktif”.
Ciri utama Matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam Matematika bersifat konsisten. Namun demikian pembelajaran  dan pemahaman konsep dapat diawali  secara  induktif  melalui pengalaman peristiwa nyata  atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep Matematika.  Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh  atau fakta yang  teramati,  membuat  daftar  sifat yang muncul (sebagai  gejala), memperkirakan  hasil  baru  yang  diharapkan, yang  kemudian dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari Matematika. Penerapan cara kerja Matematika diharapkan dapat membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa. 
Cockroft  (dalam Uno dan Kuadrat (2010:108)) mengemukakan tentang mengapa matematika diajarkan. Hal ini disebabkan matematika sangat dibutuhkan dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, bagi sains, perdagangan dan industri dan karena matematika itu menyediakan suatu daya, alat komunikasi yang singkat dan tidak ambligius serta berfungsi sebagai alat untuk mendeskripsikan dan memprediksi. Jadi matematika adalah suatu ilmu yang merupakan alat pikir untuk memecahkan berbagai persoalan praktis. 
Lebih lanjut mengenai fungsi matematika akan dibahas pada artikel selanjutnya:
klik disini untuk membukanya 


Sunday, July 30, 2017

Masalah Belajar Matematika di Sekolah

Belajar Matematika yang menyenangkan

Mata pelajaran  matematika di sekolah, senantiasa memiliki persepsi yang kurang baik. Minat  siswa terhadap mata pelajaran matematika selalu dianggap rendah. Bahkan, matematika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang membosankan. Kecenderungan yang muncul adalah, persepsi bahwa matematika itu tidak memiliki manfaat atau kegunaan. Selain itu, penempatan jam pelajaran matematika juga menjadi salah satu alasan kenapa siswa enggan untuk belajar matematika. Contoh, matematika ditempatkan di akhir jam pelajaran, yang menjadikan siswa itu lebih fokus pada keinginan untuk segera pulang. Atau matematika ditempatkan di tengah-tengah pelajaran Bhs Inggris dan IPA. Pada saat yang sama ada PR Bhs Inggris dan di jam terakhir ada ulangan IPA , maka matematika-pun jadi “korban” ke-pusingan siswa yang kemudian diwujudkan dengan tidak mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Kejenuhan siswa terhadap mata pelajaran matematika, juga dapat disebabkan oleh pola mengajar gurunya. Misalkan guru dalam menyampaikan materinya kurang interaktif dengan siswa dan cenderung bersifat killer atau sering menghukum siswanya apabila tidak dapat menjawab soal dengan benar, tentunya mengakibatkan siswa menjadi takut dan akhirnya merasa enggan untuk belajar matematika.  Dari permasalahan di atas, ada dua hal yang menurut penulis menjadi faktor penyebab siswa tidak berminat pada matematika. Pertama, Guru kurang begitu menarik dalam hal penyampaian materi dan Kedua, siswa tidak terlibat dalam pembelajaran. Begitu banyak strategi pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli. Mulai dari ceramah hingga role playing. Namun kenapa guru lebih sering menggunakan metode ceramah. Dalam hal ini, faktor kreativitas seorang guru memiliki peranan penting. Pembuatan media pembelajaran merupakan salah satu bentuk kreativitas guru.Kemajuan IPTEK lebih memudahkan guru untuk menarik minat siswa melalui penggunaan media pembelajaran. Ataupun dengan menggunakan peralatan yang sederhana, dimana guru mencoba “me-nyata-kan” atau menggambarkan materi pembelajaran agar itu lebih dirasakan oleh siswa. Yang pasti, penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu solusi untuk menarik minat belajar siswa. Berdasarkan pengalaman penulis dan hasil penyebaran angket, siswa lebih senang untuk belajar di ruang Multimedia daripada di ruang kelas. Pembelajaran matematika akan menjadi menarik jika siswa merasakan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebenarnya banyak materi matematika yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Sehingga, siswa bisa menyadari bahwa matematika itu sangat berguna bagi kehidupannya. Hal lain yang mendukung tertariknya siswa terhadap pelajaran seorang guru adalah sikap dari guru itu sendiri terhadap siswanya. Memberikan tugas pada siswa adalah suatu hal yang bagus. Dengan kata lain, siswa diberikan kesempatan untuk belajar sendiri. Namun jika tugas itu terlalu berlebihan, tentu akan mendapat respons yang kurang baik dari siswa. Dalam hal ini, guru harus bisa mengatur kapan siswa itu harus mengerjakan tugasnya sendiri dan kapan harus berkelompok. Selain itu, memberikan reward and punishment atas hasil kerja siswa, memberikan image tersendiri bagi kita sebagai seorang guru. Artinya, guru memberikan tugas kepada siswa tidak sebagai formalitas, tetapi memang memiliki tujuan tersendiri.

Saturday, July 29, 2017

Cara Belajar Matematika Tepat & Efektif

Belajar Matematika Secara Tepat di ASM Course
Selama ini mitos yang berkembang dikalangan siswa, menganggap bahwa belajar matematika adalah hal mengerikan yang selalu ditakuti ketika sekolah. Mata pelajaran yang selalu identik dengan perhitungan ini sukses membuat kepala siswa jadi pusing. Akibatnya banyak siswa merasa jenuh dan enggan mengikuti kegiatan belajar matematika di sekolah, dan selalu berharap jam pelajaran tersebut segera cepat berakhir. Mirisnya lagi, untuk mendapatkan nilai maksimal pada mata pelajaran ini susahnya minta ampun. Tugas / PR yang  sulit menjadi beban rutinitas, ulangan harian dan ulangan semesterpun seakan menyeramkan,  sampai-sampai siswa berucar asal tidak ada PR dan remidial adalah hal yang wajib disyukuri
Namun, apakah matematika sesulit itu?
Jawabannya bisa YA bisa Tidak, itu tergantung dari cara kita mempelajarinya.

Nyatanya, belajar matematika tidak sesulit yang dibayangkan oleh semua orang, ini tergantung midset kita. Sebagi contoh, jika diawal pelajaran kita sudah merasa bosan maka hasil yang akan kita raih selama beajar-pun tidak maksimal. Namun sebaliknya, bila kita have fun saat mengikuti pelajaran maka semua materi yang disampaikan terasa mudah dipahami.

Baca Artikel Lainnya

BLOG MASIH DALAM MASA PEMBUATAN

MOHON DUKUNGAN & DONASINYA DENGAN MENGKLIK ILKAN DI BLOG INI